07 May 2024

How to avoid Boredom

Boredom is the way of nature telling you that you have too much useless time in your life . That spare time should be spent on something more usefull than hitting the pillow and wondering why you are doing what you're doing.

Clever people might use that empty moment to think about the meaning of life, and even invent something usefull.

How to waste your time is entirely your business. Just a reminder for yours trully that you are still alive and well..

30 September 2014

Let Soleil Pours over Beirut

Now I'm in Beirut...

In the beautiful country of Lebanon, with its quarreling society , fragile security, in the most unstable region in the whole world.

Pheewww.. thank God there is the "beautiful" factor!

07 June 2011

Jakarta Kota Pantai?

Jadi... pada hari sabtu saat libur panjang cuti bersama kemarin, saya dan keluarga tidak pergi keluar kota. Kami hanya menikmatinya di Jakarta saja. Maklum saat ini buntut kami sudah dua dengan hadirnya putra kami Ashkan Hanin Auliya pada 16 Januari 2011 lalu. Pastinya agak riskan kalau mau jalan-jalan jauh dengan bayi berumur 4 bulan.

Tapi emang bosen juga empat hari libur cuma di rumah saja, akhirnya pada hari sabtu kemarin kita putuskan jalan-jalan mencari laut yang murah di Jakarta. Nah disinilah saya mulai agak sadar, ternyata meskipun Jakarta itu kota pantai di Teluk Jakarta, tapi kehidupan warganya seakan tercerabut dari laut.

Di Jakarta ini sulit sekali kita temukan pantai yang bagus namun gratis. Paling juga Ancol yang kalo masuk saja harus bayar paling tidak 15000 per orang. Kalau kita komplain ke orang lain paling ditanggapi, di Jakarta ini mana ada yang gratis? Buang air aja bayar kok.. Dari sini timbullah ide kami untuk menelusuri pantai-pantai di Jakarta. Kayak apa sih kondisi sebenarnya?

So.. saya, Istri beserta Jehan dan Ashkan berangkat dari rumah sekitar pukul 11 siang. Tujuan pertama kami Desa Nelayan Kamal di Barat Jakarta. Dengan ditemani GPS hape dengan Google map, kami menuju ke Kamal. Ternyata yang disebut Pantai Kamal itu adalah sebuah kampung nelayan dengan sebuah tempat lelang Ikan dan pasar Ikan. Resminya masuk tidak bayar tapi ada semacam pungli sebelum memasuki Kamal, 1000 rupiah untuk sumbangan perbaikan jalan rusak. Kampungnya sendiri sangat kotor dan becek, dengan laut berwarna hitam akibat polusi dari Jakarta.

Dari Kamal kami menuju ke Pantai Dadap untuk santap siang seafood yang cukup dikenal. Secara administratif Dadap terletak di Banten tapi masih berbatasan dengan Jakarta. Untuk masuk ke Dadap kami harus membayar Rp. 1500 pungutan resmi dari Dinas Perhubungan Banten.

Dadap sendiri merupakan daerah hasil reklamasi pantai yang sepertinya tadinya ingin dikembangkan sebagai tempat wisata makan ikan dan perusahaan perikanan. Namun kondisinya sangat menyedihkan. Untuk menuju ke tempat makanan seafood kami harus melewati sebuah daerah lokalisasi WTS yang kumuh. Untung tempat makan seafood cukup bersih dan makanan laut yang disediakan juga cukup segar. Ada tiga tempat makan seafood yang cukup besar di Dadap. Semuanya berbentuk panggung yang dibangun di atas laut Teluk Jakarta dengan pemandangan laut lepas (meskipun kotor), sehingga cukup menambah kenikmatan makan seafood disitu.


Setelah makan siang seafood yang nikmat, kami menuju ke kawasan Perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK) di kawasan Kapuk, Jakarta Utara. PIK sendiri sebenarnya perumahan yang bermasalah. Didirikan diatas bekas Hutan Bakau lindung Jakarta di kawasan yang tadinya merupakan hutan bakau dan rawa penyangga Jakarta, sebagai limpahan air Kali Angke jika meluap saat musim Hujan. Namun entah dengan cara bagaimana Gubernur Jakarta dulu memberikan izin mendirikan perumahan di kawasan ini.

Untuk mencegah limpahan Kali Angke, pihak pengembang membangun semacam bendungan di sepanjang Kali Angke di PIK yang tingginya lebih dari permukaan laut Teluk Jakarta sehingga kawasan tersebut tidak akan terkena banjir meskipun hujan deras. Namun akibat pembangunan bendungan ini, kawasan di hilir kali Angke beserta anak-anak sungainya terkena imbasnya. Air yang seharusnya melimpah di rawa Kapuk saat musim hujan, melimpah di tengah Jakarta. Akibatnya banjir di Jakarta semakin parah dibanding sebelumnya.

Anyway by the way, pihak pengembang masih menyisakan sedikit kawasan hutan lindung bakau ( sekitar 44 hektar) yang cukup terawat dan gratis untuk dimasuki. Kami menuju ke hutan tersebut setelah terlebih dahulu masuk ke kawasan perumahan PIK yang mewah. Yang menarik hutan lindung bakau tersebut disediakan fasilitas jalan setapak layang beton diatas rawa, sehingga kita bisa masuk sampai ke pinggir laut dengan mudah. Di laut terdapat sebuah Gazebo dimana kita dapat menikmati indahnya pemandangan ke laut lepas. Hati-hati di hutan tersebut masih banyak terdapat monyet liar yang merupakan bagian dari ekosistem hutan bakau Teluk Jakarta tersebut. Karena liar, tingkah mereka sulit untuk diduga.

Setelah menikmati indahnya hutan bakau Kapuk kami berangkat menuju kawasan kampung dan pelabuhan nelayan Muara Angke. Kawasan ini terkenal dengan restoran-restoran Seafood lesehan dimana kita bisa memilih langsung ikan-ikan segar yang kita inginkan di pasar disana. Dari pelabuhan disini pulalah kita naik kapal yang disebut orang setempat sebagai “ojek pulau seribu” jika kita ingin jalan-jalan ke berbagai pulau ke Kepulauan Seribu. Kami masuk ke kawasan Muara Angke tersebut setelah terlebih dahulu membayar retribusi resmi untuk mobil yang kami naiki. Namun berhubung kami masih kenyang setelah makan di Dadap sebelumnya, kami hanya melihat-lihat saja sambil sibuk menenangkan Jehan yang menangis karena ingin naik ke Perahu-perahu nelayan disana.

Nanti disambung lagi ah.. selanjutnya Pantai Mutiara, Pelabuhan Nelayan Muara Baru, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pantai Ancol, Pelabuhan Tanjung Priok dan Pantai Marunda..

22 April 2010

Hot.. hot.. hot.. that's what I can say about the current weather in Delhi. It's just April, in the mercury have reached 45. Last week the temps are between 40 to 45, which usually in May or June. These three days are 'only' 34 to 39. What a relief.. wait.. what?

However, we should be thankful with the weather, much of the strangers who just met wouldn't have talk without it.

As Kim Hubbard saying," don't knock the weather, nine-tenths of the people couldn't start a conversation if it didn't change once in a while."

How true, unless you come from Indonesia or other Asian countries, when conversation probably will begin with "have you married yet?" or other questions which is considered personal in the western countries.

Have a pleasant weather everyone.

21 January 2010

Dan hilanglah sudah

Baru sekarang saya liat-liat lagi blog saya yang sudah lama terlupakan (maafkan saya blog...). Baru tersadar banyak gambar-gambar yang ada di blog ini saya simpan di account geocities saya (bummer!!)

Sekarang Geocities sudah ditutup. Sesal tiada guna. Sekarang harus korek-korek lagi arsip foto di hard disk saya lalu berusaha menghidupkan lagi gambar-gambar di blog ini, kalau mood mengizinkan....

Eniwei, sudah dua tahun lebih saya di India, banyak cerita yang ingin saya share ke dunia, apalagi kalau bukan perbandingan kehidupan antara Jakarta, Melbourne, dan New Delhi?

Ah nantilah ai ceritakan kalau sudah mood. Untuk sementara nikmati dulu gambar-gambar klasik berikut...

The Famous Tomb


A Temple on the way to Ghaziabad


An old Mosque in Lodi's Garden


The not so famous tomb of Emperor Humayun

Koleksi gambar-gambar yang saya ambil dengan hape Ericsson tua saya yang setia menemani sejak saya masih di Melbourne.

07 March 2009

Jehan and wife

Things are not yet settled nowadayas, as always. But then again, life is always about unsettled things, every second of your life. Maybe only when our own graves are in sight that the quest of the mortal is finished, until the afterlife sipping in.

But some things are soleil me up for the past one and a half year, my dear wife and the light of my life, the rascall in the house, my Jehan Shahdar.


Luv u fams.

29 July 2008

Restart

After several months of unannounced hiatus, I'd like to restart this thing, prolly tommorrow.
After all many interesting things happened in the world without anyone make a notice.

Salam

18 June 2007

A note for my impedimency

Hi me,

It's been months since you wrote your last notes on life. Well, maybe the rainy season that poured over Indonesia since last February had also poured your thoughts away. I hope not so.

Many had happened since then. The biggest floods Jakarta ever face in its recent history, peace at last in Aceh, new Busway corridors in Jakarta, the most devastating transportation accidents, mud flows that is getting bigger in East Java, and ah yes.... you will be posted in Delhi I heard.

India, the land of magics, mystiques, religious people (and extreme poverties). The land of magnificent architectures, Bollywood, colourful dresses (and hard headed non-stop talkers). The land of beautiful rivers, highest mountains, fastest steppes (and biggest floods and dry lands). The land of tastiest foods, amazing diversity of humans, (and class and religious fights that never end). India the land of many beauties and contrasts. Do you looking forward to go to your post in there, me?

Many you can look forward to, but the most important thing is to do you job properly for the country you serve. Give your best service for your countrymen because that what you are paid for.

How about that me?

28 October 2006

Soleil does pours all over me

The title of this web log is let soleil pours over you, which means I expect the sun will shine over you in a cold, windy day. That was then when I was shivering in the cold Melbourne. I don't expect as much soleil anymore though, due to the obvious heat in this here land. But it's getting ridiculously too much sun for the past weeks.

It has been like a month* since the last rain drops touch the earth here resulting in ridiculously hot days which is too much to bear for me. Not to mention the smoggy air of Jakarta which refused to clear up even though there are not as much cars as before the long Eid holiday.

The rainy season is supposed to be here already, yet not even a drop of rain fall. I don't know if this is the result of the green house effect that people talk about so much.

* I heard in the Southern Jakarta some rains has already developed. I wonder when they will reach West Jakarta?

20 September 2006

Lazy bastard

Globalization faces challenges today on how to lift productive capacities in a sustainable way for the poorest country. Increased FDI, ODA and Remittances, and higher commodity prices seems did not benefit some of the poorest countries. These countries remains marginalized due to some inherent constraints that prevent them to take advantage of globalization... nyah nyah nyah..

Duh, it's Wednesday already and I have to finish this kind of work by the end of the week. Time flies so fast if you don't use it effectively.

My lazy bones, spare me till they finish, OK?

09 September 2006

Back to basic

It has been three months since I leave Melbourne. Beautiful city with a lot of great memories, I really hope that I would be back there someday.

Now I am back to my beloved smoggy crowded city of Jakarta. Well kinda have culture shock when I was first step in Jakarta after spent two and a half years in Melbourne. Living there was like a dream. And now back to my reality.

Not much change in Jakarta since two and a half years ago... well except for the new Transjakarta bus lane and a new toll road from Jakarta to Bandung that cut the travel time by almost half.

It's great to be back..

02 July 2006

Setelah Mami Pulang

Minggu kemarin mama dateng ke Melbourne. Selama seminggu ini saya ngajak mama jalan2 keliling Melbourne dan Victoria.. the usual places. Kasihan mama kedinginan disini, maklum beliau belum pernah ke negara yang ada winternya.

Hari ini beliau sudah kembali ke Jakarta. sedangkan diriku? Kembali lagi ke 'good old' Indomie goreng...

15 June 2006

Sirik tanda tak mampu

Everybody is always better than me, I can't do it like everybody else...

This kind of thinking can make you degrade yourself into a sorrowful, self-pity slave that leads to a belief that it is true, and then you can forget about moving forward, and stay in mud you’ve created perpetually.

Or on the positive side it can bring humility and protect you to become a bigheaded self-appreciating bastard, ready to abuse other people.

It depends on how you see the situation.

One of my opinions in life is, try think positive for every situation, no matter how deppressing it is. It can make life happier, not only for your self but also others, I believe.

Salute

10 June 2006

The reason of why I am being so frustated lately


Dang! so many to read, so little time!

14 May 2006

Rekap jalan-jalan

Hii.. rasanya udah lama banget gak di update ini log. Sampe kudu dimarahin dulu sama Mb Ellen baru inget kalo saya punya yang tempat cerita.

Berhubung sekarang lagi musim assignment (duh.. masih limabelasribu kata lagi belom kelar!) agak merasa bersalah juga kalau net-timenya malah di abisin buat bikin cerita di sini. Berhubung tema besar dari blog ini adalah jalan-jalan (bukan soal studi.. itu mah ga usah di omongin dah), jadi pengen sekedar cerita dikit mengenai soal ini.

Sudah dua tahun saya disini. Sebentar lagi bulan Juli, saya Insya Allah akan menyelesaikan studi dan kembali ke negeri tercinta dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Banyak sekali kesan dan pengalaman yang saya dapatkan disini.

Trus soal jalan-jalan tadi, selama dua tahun ini rasanya sudah hampir sebagian besar tempat wisata di benua terkecil di dunia ini sudah saya kunjungi, paling tidak sebagian besar daerah selatan, timur dan tengah negara ini. Berikut tempat-tempat yang pernah saya kunjungi selama saya disini dengan sedikit kesan-kesannya:

Victoria:

Melbourne tentunya, tempat saya menimba ilmu dan cita, kota yang indah, hijau dan menurut orang-orang paling bernuansa Inggris dan Eropa di banding kota-kota lain di benua ini. Saya belum pernah ke Inggris ataupun Eropa, jadi iya sajalah. Kesan saya? Kota ini sangat bernuansa klasik, rapi dan terorganisir (kecuali saat Commonwealth Game bulan lalu, hiiy, tiba2 ini kota jadi sumpek banget karena terlalu banyak orang datang). Saking terorganisirnya terkadang saya pikir jadi sangat monoton, kurang unsur surprisenya. Sepertinya semua bisa di prediksi disini, kecuali cuacanya tentu saja (damn four seasons in one day!).

Mornington Peninsula, dengan perkebunan, tanah pertanian, pantai-pantai dan pemandangan gunung dan laut yang bagus banget. Nggak terlalu jauh dari Melbourne so lumayan aksesibel.

Belarine Peninsula, tempatnya Geelong, kota kedua terbesar di Victoria (tapi dengan populasi yang sangat jomplang, 3,5 jt di Melbourne dibanding 250rb di Geelong). Dua jam nyetir dari Melbourne dengan pemandangan lumayan meski nggak sebagus Mornington. Disana kita bisa touring ke kota-kota bersejarah dan benteng bersejarah Queenscliff, yang meriamnya cuma pernah di tembakkan sekali, dan mengenai benteng Sorrento di seberangnya. Geelong sendiri merupakan kota yang sangat menarik, terkenal dengan water front-nya yang dihiasi oleh puluhan patung-patung bollards yang menggambarkan sejarah Australia dan Geelong khususnya. Tahukah anda? Kelinci yang sekarang menjadi hama di Australia pertama kali masuk dari Geelong, berasal dari 10 ekor yang dibawa dari Eropa oleh untuk dijadikan obyek untuk olahraga berburu pembesar Inggris jaman dulu.

Wilson Promontory: Back to nature is adalah tema utama dari taman nasional ini. Sekitar tiga jam dari Melbourne dengan mobil. Tempat ini menawarkan semua pemandangan, mulai dari pantai, pulau, gunung dan sungai. Titik paling selatan dari benua Aust

Phillip Island, pulau dekat Melbourne dengan banyak pemandangan alam yang bagus. Yang menjadi atraksi utama Phillip Island adalah Pinguin Parade, melihat pinguin fairy, jenis pinguin terkecil di dunia yang cuma ada di Australia, pulang ke sarangnya setiap matahari terbenam. Phillip Island merupakan tempat dengan konsentrasi pinguin fairy terbesar di Australia.

Great Ocean Road, jalan raya sepanjang 200-an kilometer menyusuri pantai selatan victoria. Jalan raya berliku-liku dengan pemandangan alam yang sangat bagus. Di tengah perjalanan kita bisa mampir di Twelve Apostles, sekumpulan karang raksasa yang fantastis di pantai bertebing curam dekat kota Port Campbell. Salah satu pemandangan yang tidak boleh di lewatkan bila anda berkesempatan ke Melbourne.

Ballarat, kota ke tiga terbesar di Victoria yang pernah menjadi kota tambang emas terbesar di Australia. Disini kita bisa mengunjungi Sovereign Hill, sebuah kota wisata yang dibuat seperti kota Ballarat jaman dulu, lengkap dengan penduduknya yang berpakaian ala Australia abad 19 dan replika tambang emasnya. Menurut sejarah, emas-emas dari Ballarat inilah yang membangun kota Melbourne sampai menjadi kota kedua terbesar di Australia.

Grampians, taman nasional pegunungan dan rainforest. Space to think, kalau menurut iklannya.

Bendigo, kota dengan bangunan-bangunan yang klasik dan indah, salah satu kota yang dibangun pada saat emas masih jadi komoditi utama di Victoria. Disini pula bisa kita temukan Myer Department Store yang pertama di Australia. Myer saat ini adalah Department Store terbesar dan paling eksklusif di Australia.

Echuca, sebuah kota di pinggir sungai Murray, perbatasan Victoria dan New South Wales dahulu merupakan pelabuhan sungai terbesar di Australia tempat berlabuhnya kapal-kapal uap paddlesteamer yang menghubungkan kota-kota di pedalaman Australia. Saat ini kapal-kapal paddlesteamer tersebut untuk wisata menyusuri sungai Murray.


New South Wales:

Sydney, kota kosmopolitan terbesar di Australia. Banyak orang bilang belum ke Australia kalau belum ke Sydney. Saya bilang, oke deeh :). Kota ini bernuansa layaknya sebuah kota besar kosmopolitan dengan orang-orang yang ramai dan sibuk lalu lalang. Pusat kotanya sendiri seperti layaknya kota-kota besar yang ramai dan menurut saya rada crowded (mengingatkan akan Jakarta). Tapi bila kita ke daerah harbour atau teluknya, kita akan di suguhi pemandangan yang fantastis. Laut yang indah dengan latar belakang gedung-gedung kota Sydney yang megah. Oh ya, dan tentu saja Sydney Opera House.

New Castle, Kota terbesar kedua di NSW. Kota pelabuhan di muara sungai yang dahulu maju sebagai produsen batubara terbesar di Australia ini saat ini baru bangkit kembali setelah sempat lesu karena produksi batu bara yang semakin menurun. Pemandangan alam New Castle yang indah sangat menjanjikan untuk menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Australia, di tambah lagi dengan ombak pantainya yang cocok untuk tempat surfing.

Blue Mountains, taman nasional di pegunungan tidak jauh dari Sydney. Disitu kita bisa melihat the Three Sisters, tiga buah batu cadas raksasa yang menjadi aikon taman nasional ini.


Berhubung sudah malam, nanti saja saya teruskan lagi...

05 January 2006

Nyanyi-nyanyi agamawi

Hari ini saya dan temen-temen berkumpul untuk latihan Nasyid Idul Adha. Ancur-ancuran semuanya. Alhamdulillah setelah 12 kali latihan dan 2 orang korban (dipecat karena suaranya terlalu 'indah' untuk sementara makhluk) nyanyian kita udah mulai berbentuk.. abstrak he he he.
Hope everything will be ok during Idul Adha, and nobody will have cold feet in the stage.

17 December 2005

Trans-Siberian Railway

Buat para "train enthusiasts", yang seneng traveling dengan kereta, perjalanan dari Lisbon di Portugal sampai ke Ho Chi Minh di Vietnam merupakan perjalanan paling menantang dan paling panjang yang mungkin dilakukan dengan kereta api. Saya pertama kali membaca mengenai perjalanan ini sewaktu saya masih SMP, dan sejak itu jadi salah satu impian saya untuk melakukannya, tentu saja kalau ada rejeki, waktu, umur, ijin, dan lain-lain :)

Sebetulnya nggak pernah sih bener-bener serius mikirin soal ini, sampai kemarin waktu saya sedang bersantai di Borders book store (yah, toko buku adalah tempat favorit saya untuk ngabisin waktu kalau nggak ada kerjaan... what a nerd I am, aren't I?), mata saya tertumbuk pada buku sebuah keluaran Lonely Planet berjudul Trans-Siberian Railway. What the..!?

FYI, lonely planet adalah penerbit yang spesialis ngeluarin buku buat yang suka travelling, berisi informasi mengenai satu tempat beserta bagaimana cara kesana, apa saja akomodasinya dan berapa perkiraan biayanya.

Bagus juga Lonely Planet ngeluarin buku mengenai perjalanan kereta api, Trans-Siberian pula! Biasanya yang mereka terbitkan hanya mengenai negara atau wilayah tertentu saja. Tiba-tiba perjalanan dari Lisbon ke Ho Chi Minh ini kok jadi terasa real dan memungkinkan ya? Udah deh, saya beli aja buku ini. Siapa tahu suatu saat nanti saya punya waktu, kesempatan, dan biaya :)

10 December 2005

Dammit

This damn thing just can't commit to what it said it would!

A promise has already been made, but with nothing delivered, it's just drive yours trully crazy. Yet if there is a good reason of why - the true one of course - there might still be a little bit of acceptance.

But with these lame excuses transmitted everytime a promise was not going to be delivered? Hate that mate, hate that! Just don't make any at all, if not sure. A responsibility to others is what it takes.

Oh shoot, I think I just broke out some precepts from my last post.....!

02 December 2005

Words of Guidance

I have a piece of paper that hanged gracefully in my cabinet door, with excerpt of wise words from The Book. It contains general guides for conducting my life. I thought I’d like to share some of these words with you.

Some of the lessons from The Book that apply to our general living

Respect:

  • Respect and honour all human beings irrespective of their religion, colour, race, gender, language, status, property, birth, profession/job and so on [17/70]

Communicate:

  • Talk straight, to the point, without any ambiguity or deception [33/70].
  • Choose best words to speak and say them in the best possible way [17/53, 2/83].
  • Do not shout. Speak politely keeping your voice low. [31/19].
  • Always speak the truth. Shun words that are deceitful and ostentatious [22/30].
  • Do not confound truth with falsehood [2/42].
  • Say with your mouth what is in your heart [3/167].
  • Speak in a civilised manner in a language that is recognised by the society and is commonly used [4/5].
  • Do not be a bragging boaster [31/18].
  • Do not talk, listen or do anything vain [23/3, 28/55].
  • Do not make mockery of others or ridicule others [49/11]
  • Do not defame others [49/11]
  • Do not insult others by nicknames [49/11]

Justice:

  • Ascertain the truth of any news, lest you smite someone in ignorance and afterwards repent of what you did [49/6].
  • Do not follow blindly any information of which you have no direct knowledge. (Using your faculties of perception and conception) you must verify it for yourself. In the Court of your Lord, you will be held accountable for your hearing, sight, and the faculty of reasoning [17/36].
  • Avoid suspicion and guesswork. Suspicion and guesswork might deplete your communal energy [49/12]
  • When you voice an opinion, be just, even if it is against a relative [6/152].
  • If you do not have complete knowledge about anything, better keep your mouth shut. You might think that speaking about something without full knowledge is a trivial matter. But it might have grave consequences [24/15-16].
  • When you hear something malicious about someone, keep a favourable view about him/her until you attain full knowledge about the matter. Consider others innocent until they are proven guilty with solid and truthful evidence [24/12-13].

Treating others:

  • Treat kindly: your parents, relatives, the orphans, and those who have been left alone in the society [4/36].
  • Take care of: The needy, the disabled, those whose hard earned income is insufficient to meet their needs, those whose businesses have stalled, and those who have lost their jobs. [4/36].
  • Treat kindly: your related and unrelated neighbours, companions by your side in public gatherings, or public transportation. [4/36].
  • Be nice to people who work under your care. [4/36]

Treating yourself:

  • Do not be jealous of those who are blessed. [4/54]
  • In your collective life, make rooms for others. [58/11]
  • Eat and drink [what is lawful] in moderation. [7/31]
  • Fulfil your promises and commitments. [17/34]
  • Keep yourself clean, pure. [9/108, 4/43, 5/6]
  • Dress-up in agreeable attire and adorn yourself with exquisite character from inside out [7/26].

Being sincere

  • Do not follow up what you have given to others to afflict them with reminders of your generosity [2/262].
  • Do not expect a return for your good behaviour, not even thanks [76/9].
  • Do no try to impress people on account of self-proclaimed virtues [53/32].


Being an example:

  • You should enjoin right conduct on others but mend your own ways first. Actions speak louder than words. You must first practice good deeds yourself, then preach [2/44].
  • Correct yourself and your families first [before trying to correct others] [66/6].

Avoidance:

  • Leave to themselves those who do not give any importance to the Divine code and have adopted and consider it as mere play and amusement [6/70]
  • Sit not in the company of those who ridicule Divine Law unless they engage in some other conversation [4/140]

I try to follow those words all the time. But reflecting what I have achieved and done so far… O Allah… how disgrace I must be in front of You. I think I haven’t even done a tiny bit. O Rabbi, would you give me strength to follow Your way?

19 November 2005

Pengamen Melby

Saya tinggal di Kota yang dijuluki 'four seasons in one day'. Emang bener banget. Kota ini memang cuacanya nggak konsisten sangat. Bahkan sampai ada pameo di sini: "if you don't like Melbourne's weather, just wait for ten minutes!" ha ha... how true! Contohnya beberapa hari lalu cuaca kota yang terkenal (nggak konsistennya) ini kembali menunjukkan taringnya, temperatur udara berubah dari sekitar 27 ke 15 derajat... cuma dalam 10 menit! Puih.. gimana nggak rusak ini badan. Dua orang teman saya jadi korbannya, terkapar dirumah karena pusing setelah kena panas lalu dingin kaya gitu.

Namun saya lumayan suka kota berpenduduk lebih kurang 3.5 juta ini. Disamping arsitekture bangunan-bangunannya yang indah, kota in nggak terlalu ramai seperti kota terbesarnya negara ini, tapi juga nggak terlalu sepi juga seperti ibukotanya negara ini. disini semua serba teratur karena memang sistem dan peraturan yang berjalan dengan baik. Kalau kita ingin keramaian, tinggal jalan ke downtownnya, tapi kalau anda ingin agak sepi, dengan naik tram sedikit saja ke suburbnya, pilih salah satu dari puluhan garden atau park yang ada kalau mau menyepi. Untuk soal yang satu ini kota ini memang nomor satunya. Nggak salah kalau semboyannya seperti yang sering terlihat di plat mobil-mobilnya "Victoria the Garden State". Ruang terbuka memang sangat diperhatikan oleh pemdanya.

Salah satu feature yang juga saya suka dari kota ini adalah para pengamennya atau biasa disebut street artist. Disini yang namanya pengamen (ngamen musik, ngamen lukis atau ngamen pertunjukan) sangat menghibur dan sangat profesional dalam berseni. Terkadang saya mikir juga, kemampuan mereka begitu bagusnya.. ngapain juga mereka ngamen. Mending terjun ke dunia pertunjukkan yang sesungguhnya.

Tapi ya sudah pilihan mereka kaya gitu, mungkin mereka merasa lebih bisa berekspresi kalau ngamen di jalan daripada di tempat yang komersil. Alhasil, publik kota ini beruntung bisa menikmati karya mereka dengan sedikit uang sedekah saja. Atau kalau nggak malu, nggak ngasih juga nggak apa-apa (huh emang maunya gratisan muluk!).

Disini saya postingkan beberapa aksi karya mereka:

Seorang pelukis jalanan (literary) sedang melukisi jalanan. Lukisan yang dia buat biasanya akan hilang setelah beberapa bulan karena terinjak-injak para pejalan kaki atau di gerus cuaca. Setelah itu sang seniman ini akan membuat karya-karya baru yang dengan tema lain yang nggak kalah bagusnya.

Pemain sirkus dan komedian jalanan. Aksi-aksi mereka sangat menegangkan tapi bisa juga mengocok perut dan bikin air mata keluar karena lawakan-lawakan segar mereka.

Ini mungkin pekerjaan paling enak di dunia. Patung hidup ini cuma bermodal berdiam diri dan menunggu koin-koin berdatangan. Indahnya hidup. Tapi sebetulnya susah juga yah kalau berdiam diri selama berjam-jam cuma buat menunggu recehan.

Seorang pengamen dari Iran dengan alat musik tradisionalnyaKalo nggak salah nama alat musiknya 'Santoor' atau apa. Saya sempet nanya tapi dasar nggak dicatet. Saya paling suka kalau sedang jalan di Swanston street dan orang ini sedang ngamen, saya diam sejenak mendengarkan musiknya yang menurut saya sangat indah. Saya sempet bilang ke dia kalau alat musiknya dia soundnya mirip dengan kecapi sunda. Tapi emang lebih bagus yang ini sih. Sumpe!

Pak tua dengan accordeonnya. Waktu tau dia mau saya foto, langsung deh masang topinya en nyengir ke kamera. Biar ngamen yang penting gaya kali yah?

Komedian jalanan. Orang ini sangat interaktif dalam menghibur. Seperti gambar diatas, dia melibatkan anak-anak yang diambil acak dari penonton.

Pengamen Aborigin sedang memainkan Didgeridoo, alat musik tradisional Australia. Perlu belajar lama cuma untuk bisa mengeluarkan suara dari alat musik ini.

Kadang-kadang para pengamen ini juga sudah mengeluarkan CD rekaman mereka yang di produksi secara independen, dan di jual sembari mereka bermain di jalan. Seperti gambar pemusik Didgeridoo diatas, tas terbuka di depan mereka itu adalah CD rekaman mereka yang dijual langsung di tempat.

Kalau soal seni jalanan Melbourne memang surganya. Sebetulnya nggak cuma di jalan sih.. berhubung keterbatasan kantong saya, sementara ini saya nikmatin seni jalanan saja dulu deh.